Jangan Panik! Tingkatkan Literasi Tentang Potensi Gempa Megathrust

Selasa, 29 September 2020 - 09:20 WIB
Jangan Panik! Tingkatkan Literasi Tentang Potensi Gempa Megathrust
Jangan Panik! Tingkatkan Literasi Tentang Potensi Gempa Megathrust
Banner Dalam Artikel

TatarSukabumi.ID - Kecemasan dan kepanikan publik muncul dengan menyeruaknya informasi potensi Gempa Megathrust di Pulau Jawa.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami pada BMKG, Dr Daryono, kepada TatarSukabumi.ID, imbau masyarakat untuk tidak menelan mentah informasi yang beredar.

Menurut Dia, telah terjadi kesalahpahaman masyarakat dalam menerima informasi yang tidak utuh terkait potensi gempa megathrust.

"Ini masalah sains komunikasi, hingga saat ini masih ada gap atau jurang pemisah antara kalangan ahli dengan konsep ilmiahnya, dengan masyarakat yang memiliki latar belakang dan tingkat pengetahuan yang sangat beragam," ungkap Daryono, Selasa (29/9/2020).

"Para ahli menciptakan model potensi bencana sebenarnya ditujukan untuk acuan upaya mitigasi, namun sebagian masyarakat memahaminya kurang tepat, seolah bencana akan terjadi dalam waktu dekat," sambung Dia.

"Kasus semacam ini tampaknya terus berulang, dan pastinya harus kita perbaiki dan akhiri," tegas Daryono.

BACA JUGA : Jangan Gagal Paham Tentang Gempa Megathrust  dan Potensi Tsunami di Pulau Jawa

Lebih jauh Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami pada BMKG menyebut, kepanikan di masyarakat akibat informasi potensi gempa megathrust terus berulang sejak pasca peristiwa tsunami Aceh 2004 silam.

Menurut Dia, gaduh hingga perdebatan tentang potensi gempa megathrust dan Tsunami kerap muncul, setiap para ahli mengemukakan pandangan mengenai potensi gempa dan tsunami.

"Kami berharap masyarakat terus meningkatkan literasi, selanjutnya tidak mudah kagetan setiap ada informasi potensi bencana," ungkapnya.

BACA JUGA : Penjelasan BMKG Terkait Potensi Gempa Megathrust di Selatan Jawa Hasil Kajian ITB

Pada era media informasi yang mudah diakses dan cepat menyebar, BMKG meminta Masyarakat untuk tidak mudah terpancing dengan judul berita dari media yang dengan bombastis memberitakan potensi bencana.

"Terkadang ada media yang menyajikan berita yang tidak utuh dalam mengutip narasumber," ungkapnya.

"Sehingga muncul berita  sepotong-sepotong yang akhirnya menimbulkan salah persepsi ditengah masyarakat," sambung Daryono.

"Mari bersama kita akhiri kepanikan ini dan kini saatnya bersama-sama menata mitigasi." tandasnya.(*)