Loading...

Bikin Nangis! Yatim Piatu Penjual Gorengan di Cibadak Bertahan Hidup

Jumat, 17 Januari 2020 - 16:28 WIB
Bikin Nangis! Yatim Piatu Penjual Gorengan di Cibadak Bertahan Hidup
Bikin Nangis! Yatim Piatu Penjual Gorengan di Cibadak Bertahan Hidup

TatarSukabumi.ID - Sandi Cahya terpaksa berjibaku menghidupi dua adik kandungnya pasca ditinggal ayahnya yang meninggal dunia didalam sumur maut beracun pada Desember 2019 lalu.

Tidak hanya ditinggal ayah 40 hari silam, Ibunda mereka juga telah meninggal dunia pada 3 tahun silam setelah divonis mengidap penyakit kangker otak.

Ketiganya tinggal menghuni rumah bambu beralas tembok di Kampung Kamandoran RT 02 RW 10 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat.

Ditemui di kediamannya, Sandi mengatakan untuk keberlangsungan hidup sehari-hari dan membiayai sekolah ke-dua adiknya, Sandi bekerja sebagai buruh serabutan, Jumat (17/1/2020).

Hasilnya jauh dari kata mencukupi, untuk bertahan hidup mereka terpaksa menjual gorengan keliling kampung.

"Sehari-hari saya kerja sebagai kuli serabutan, untuk menghidupi kedua adik sehari-hari dan sekolah dari penghasilan tidak mencukupi, alhasil saya harus sabar dan menunggu hari esok.

"Untuk menambah beli makan dan menabung kami berjualan gorengan keliling kampung," kata Sandi, Jumat (17/1).

BACA JUGA : Kemenpan RB Instruksikan Penyederhanaan Birokrasi di Setiap Daerah

Sandi mengatakan, adiknya Lastri (15) dan Siti (10) saat ini masih duduk di bangku sekolah, dirinya berharap Pemerintah melalui dinas terkait bisa membantu adiknya di bidang pendidikan.

Kebutuhan lainnya, adalah sarana tempat tinggal dua bocah yatim piatu yang jauh daei kata layak huni.

"Saya ingin pemerintah setempat jangan hanya janji dengan mem-foto rumah, Saya berharap pemerintah bisa melihat kondisi kami dan kediaman kami ini," harapnya.

BACA JUGA : Mengintip Strategi Partai Gerindra di Pilkada Sukabumi 2020, Yudha : Koalisi Nasionalis Religius

Hari ini komunitas pegiat sosial, Sahabat Kristiawan Peduli (SKP) yang dimotori oleh Kristiawan Saputra kunjungi kediaman kedua Yatim Piatu yang hidup bersama kakaknya di Cibadak.

Kehadiran kita untuk bersilaturahmi dan menjalankan program SKP tentang anak yatim piatu, nanti kita akan lihat assessment kebutuhannya apa saja, mungkin dari biaya pendidikan maupun kebutuhan hidup seharu hari," ungkap Kristiawan saat ditemui di kediaman Yatim Piatu penjual gorengan di Cibadak, Jumat (17/1).

Lebih jauh Kristiawan mengatakan, sebelum ayahnya meninggal dunia, ada perubahan kepada kedua bocah yatim piatu.

"Setelah ayahnya meninggal ada yang berubah, sekarang mereka berjualan, dulu biaya hidup di tanggung ayahnya sekarang mereka terpaksa berjualan untuk bertahan hidup," ungkap Kris.

"Kita akan lihat apa yang kita bisa bantu, agar psikologi mereka terutama di bidang pendidikan mereka," tandasnya. (*)