Petani Cabai Sukabumi Meradang, Terancam Gagal Panen Terpaksa Panen Dini

Senin, 25 Juni 2018 - 00:00 WIB

Petani Cabai Sukabumi Meradang, Terancam Gagal Panen Terpaksa Panen Dini
Petani Cabai Sukabumi Meradang, Terancam Gagal Panen Terpaksa Panen Dini
Banner Dalam Artikel


TatarSukabumi.ID - Petani cabai Kampung Cisalimar Desa Cipeuteuy - Kabandungan Kabupaten Sukabumi, meradang dan terpaksa harus gigit jari tidak bisa meraup keuntungan.

Bukan untung diraih, tanaman cabai yang mereka tanam mengalami kematian hingga menyebabkan gagal panen akibat dampak serangan penyakit dan hama tanaman.

BACA JUGA : Petani Sukabumi Menjerit Tidak Terima THR, Gara-gara Harga Anjlok

Serangan penyakit yang tak biasa ini menyerang hampir semua tanaman jenis cabai kriting hingga dengan ciri ciri buah dan daun cabai menjadi layu dan mati, padahal para petani di Desa sentra sayuran ini sudah mencoba dengan berbagai jenis obat untuk membasmi, namun upaya mereka tetap gagal hingga mengakibatkan gagal panen.

"Sudah saya semprot secara rutin namun tidak mempan," tutur petani setempat, Sopandi, Kamis [7/6/2018].

BACA JUGA : Ikan Pindang Cue Palabuhanratu, Nyaris Punah

Di waktu normal, petani melakukan panen jika cabai sudah berwarna kemerahan, namun saat ini, petani terpaksa melakukan panen dini agar tidak nengalami kerugian yang cukup besar.

Sayangnya, di tengah kondisi gagal panen, harga cabai dipasaran anjlok jelang Hari Raya Idul Fitri, Hal ini mengakibatkan petani meradang mengaku mengalami rugi dan terancam tidak balik modal, “Kalau hasil panennya bagus, harga bagus untung. Sekarang pohon cabainya mati dan harga miring sehingga merugi,” tandasnya.

BACA JUGA : Kabar Gembira, 8 Juni 2018 Tol Bocimi Siap Dilintasi Pemudik

Sementara itu, Angga Salah seorang petani cabai menjelaskan, saat ini harga cabai merah ditingkatan petani hanya berkisar 10 ribu/kg, "Pemanenan dini dilakukan karena saya sudah kehabisan cara untuk membasmi penyakit yang menjangkit tanaman, jika dibiarkan rugi besar," tutur Angga.

"Para petani berharap serangan penyakit tanaman ini bisa teratasi, sehingga masih bisa memiliki kesempatan untuk memanen lebih banyak meski harga tidak tinggi", Pungkasnya.(*)

Kontributor : Asep M-Rhe / Editor : Dian Syahputra Pasi