Debit Air Curug Cimarinjung Geopark Ciletuh Surut, 2030 Hektare Lahan Terancam Kekeringan

Kamis, 05 September 2019 - 00:00 WIB

Debit Air Curug Cimarinjung Geopark Ciletuh Surut, 2030 Hektare Lahan Terancam Kekeringan
Debit Air Curug Cimarinjung Geopark Ciletuh Surut, 2030 Hektare Lahan Terancam Kekeringan
Banner Dalam Artikel



TatarSukabumi.ID - Dampak musim kemarau tahun 2019 mengakibatkan kebakaran lahan di kawasan Geopark Ciletuh Sukabumi Jawa Barat.


Tidak hanya peristiwa terbakarnya puluhan hektar lahan dikawasan Kecamatan Ciemas, sejumlah sumber mata air dan Sungai di Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi, mengalami kekeringan.


BACA JUGA : Gegara Gempa dan Tsunami Geopark Ciletuh Sepi Pengunjung


Satu diantaranya Curug Cimarinjung yang berada pada ketinggian 340 Mdpl di kawasan Geopark Ciletuh, sejak dua bulan terakhir, debit air terjun Cimarinjung menyusut hingga 75 persen.


Pada musim hujan volume debit air Cimarinjung mencapai 40 centimeter sementara saat ini volume debit air menyusut hingga kurang dari 10 centimeter.


Penyusutan tersebut menyebabkan debit air tidak bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian, hal ini diungkap juru kunci (kuncen) pintu air Curug Cimarinjung, Alin kepada TatarSukabumi.ID, Minggu (4/8/2019).


BACA JUGA : Dampak Gempa Banten Terkini, 2 Korban Jiwa dan 88 Bangunan Rusak


Lebih jauh menurut Alin, hal ini mengakibatkan ribuan hektare lahan pesawah warga terancam kekeringan, dengan luasan ribuan hektare lahan, idealnya diperlukan debit air dengan volume 40 centimeter.



"Tahun ini menyusut cukup banyak sehingga tidak bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian,"


"Air dari bendungan Curug Cimarinjung ini digunakan untuk mengairi lahan pertanian kurang lebih 2030 hektare yang terletak di Desa Ciemas dan Desa Ciwaru," jelas Alin yang juga merupakan kelompok penggerak pariwisata (Kompepar) Kabupaten Sukabumi, Minggu (4/8/2019).


BACA JUGA : Polisi Ringkus RH Tersangka Pelaku Kasus Pembunuhan Wanita Cantik Jebolan IPB


Lebih jauh Alin mengatakan, dampak kemarau tahun 2019 lebih besar dibanding musim kemarau tahun sebelumny, ditahun 2018 volume debit air Curug Cimarinjung tidak pernah kurang dari 10 centimeter.


Namun meski kekeringan, dampak gagal panen relatif sedikit mengingat saat ini masa tanam pertanian telah lewat.


"Saat ini usia padi sudah melewati masa panen, jadi pas air menyusut lahan pertanian tidak terlalu membutuhkan pasokan air yang banyak," jelasnya.


BACA JUGA : Gempa Banten Marwan Hamami Minta Masyarakat Tenang Tidak Panik dan Tetap Waspada


Alin memastikan, debit air Curug Cimarinjung belum pernah mengalami kekeringan hingga 100 persen, meski kondisi kemarau cukup ekstrem, air Cimarinjung dipastikan masih mengalir dan masih bisa digunakan untuk memenuhu kebutuhan rumah tangga warga sekitar.


"Kalau untuk kebutuhan MCK warga masih bisa digunakan, termasuk untuk mengairi lahan perkebunan yang tidak memerlukan pasokan air banyak, seperti tanaman kacang, mentimun dan lainya. Namun untuk padi sudah tidak bisa," jelasnya.(*)


Reporter : Dian Syahputra Pasi