Pendekar Silat Sukabumi Adukan Akun Facebook ke Polisi Gegara Postingan yang Dinilai Lecehkan dan Hina Pencak Silat

Selasa, 30 Juli 2019 - 00:00 WIB

Pendekar Silat Sukabumi Adukan Akun Facebook ke Polisi Gegara Postingan yang Dinilai Lecehkan dan Hina Pencak Silat
Pendekar Silat Sukabumi Adukan Akun Facebook ke Polisi Gegara Postingan yang Dinilai Lecehkan dan Hina Pencak Silat
Banner Dalam Artikel



TatarSukabumi.ID - Update status akun Facebook Umar Sinaga yang ditulis belum lama ini menuai kecaman dari sejumlah perguruan Pencak Silat di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.


2 unggahan status akun Facebook Umar Sinaga membuat Ketua Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Sukabumi, Haryadi dibuat meradang hingga melayangkan surat pengaduan yang ditujukan ke Sat Reskrim Polres Sukabumi.


Pasalnya, dalam postingan akun Facebook Umar Sinaga tertulis kata - kata yang dinilai telah melecehkan seni bela diri Pencak Silat.


BACA JUGA : Sukabumi Perbatasan Lebak Banten Waspada Gempa


Berikut ini adalah dua postingan yang ditulis akun facebook Umar Sinaga yang diadukan ke aparat Kepolisian Resor Sukabumi.


"Jangan Salahkan Ibu Mengandung tapi Salahkanlah Bapak yg Menggoyang - Politik Pencak Silat"



"Kondektur teriak 'Cianjur-Bandung' penumpang penuh eh supirnya malah kabur - Politik Pencak Silat"


Atas dasar tulisan itulah, sejumlah pentolan Pencak Silat Sukabumi datangi Mapolres Sukabumi di Palabuhanratu melayangkan pengaduannya, Senin (29/7/2019).


BACA JUGA : Bocah Putus Sekolah Penjual Agar-agar di Sukabumi, Ternyata Ini Faktanya


Ketua PPSI Kabupaten Sukabumi, Haryadi (67) kepada sejumlah awak media mengatakan, tulisan Pencak Silat yang ditulis dalam beranda akun Facebook Umar Sinaga dinilai sebagai tindakan pelecehan dan penghinaan bagi pecinta seni beladiri Pecak Silat.


Haryadi Pendekar yang kerap di sapa Abah Dedi menjelaskan, sebelum mendatangi Polres Sukabumi, secara internal pengurus PPSI dan sejumlah paguron (perguruan silat) sebelumnya telah berembuk terkait permasalahan ini.


Hasil kesepakan dari pengurus dan anggota paguron, menilai hal ini merupakan masalah yang cukup serius dan perlu ditindak lanjuti.


"Kami datang mengadukan hal ini, Kami merasa tersinggung dan merasa di nodai atas nama seni budaya sunda jawa barat, disebut Politik Pencak Silat,"


"Pengaduan kami telah diterima Polres Sukabumi, kami belum secara resmi melaporkan akun Facebook tersebut, saat ini masih bersipat pengaduan, respon Kepolisian cukup positif anggota Reskrim mengatakan akan dipelajari dahulu," beber Abah Dedi, Senin (29/7).


BACA JUGA : Tertimpa Durian Runtuh Jompo Tua dan Anak Berkebutuhan Khusus Penghuni Rutilahu di Sukabumi Terima Rumah Baru


Masih kata Abah Dedi, Pihaknya meminta agar kasus ini dapat di proses sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.



"Tidak tertutup kemungkinan apabila pengaduan kami tidak diindahkan, Kami dari beberapa perguruan Pencak Silat di Sukabumi dan sekitarnya, mungkin juga seluruh indonesia akan melakukan pergerakan," tandasnya.


Sementara itu Umar Sinaga kepada TatarSukabumi.ID menyatakan permohonan maaf bila ada pihak pihak yang merasa tidak nyaman akibat tulisannya.


"Dari hati yang paling dalam, Saya minta maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, postingan tersebut sama sekali tidak ada bermaksud mendiskreditkan cabang olah raga tapi justru itu bermaksud ingin menggambarkan politik yang sedang terjadi di tingkat pusat saat ini," kata Umar Sinaga, Selasa (30/7).


BACA JUGA : Babi Hutan Ngamuk Seruduk Warga Hingga dilarikan ke RSUD R Syamsudin Sukabumi


Lebih jauh menurut Umar, tulisannya menggambarkan harapan yang ditujukan kepada elite politik pasca Pilpres untuk merajut kembali nilai persatuan.


"Pasca Pilpres, para elite itu diharapkan berangkulan kembali merajut tali silahturahmi, itulah budaya indonesia walaupun berseteru dilapangan, adu jurus dan saling menumbangkan lawannya namun setelah selesai bertanding mereka saling berangkulan lagi, seperti pencak silat,"


"Dan kata politik Pencak Silat juga bersifat umum bukan hal baru, sama seperti istilah lainnya yang diucapkan seperti politik adu domba bukan artian mendiskriditkan dombanya atau Politik nasi goreng bukan juga kita lantas mendiskreditkan tukang nasi gorengnya, itu pemahaman saya," paparnya.(*)


Reporter : Dian Syahputra Pasi