Batu Akik Sukabumi Laris Manis di Dunia Internasional

Senin, 27 Mei 2019 - 00:00 WIB

Batu Akik Sukabumi Laris Manis di Dunia Internasional
Batu Akik Sukabumi Laris Manis di Dunia Internasional
Banner Dalam Artikel

Pengusaha Batu Akik Sukabumi Daden Setiawan


TatarSukabumi.ID - Memasuki Bulan Ramadhan 2019 /1440 H, omzet penjualan batu akik asal Sukabumi menurun hingga 40 persen, Kamis (23/5/2019).


Pengusaha batu akik online yang biasa memasarkan produknya ke sejumlah negara dibelahan dunia, Daden Setiawan (37) mengeluhkan beberapa hal yang menyebabkan merosotnya omzet penjualan yang cukup drastis.


Kata dia, menurunnya onzet penjualan dipengaruhi oleh keterbatasan bahan baku serta terkendala dengan proses pengiriman paket ke luar negeri, sejumlah negara diluar negeri menerapkan peraturan baru untuk perhiasan batu akik, sehingga ada pembatasan untuk import.


"Beberapa pemasok bahan baku dari daerah sedikit lambat sehingga menghambat proses produksi," kata Daden kepada TatarSukabumi.ID di workshop-nya yang berada di Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi (23/5/2019).


BACA JUGA : Idap Tumor Ganas di Bagian Mulut, Warga Sukabumi Ditipu Calo


Sejumlah Negara menjadi langganannya sejak berjualan secara online, diantaranya Amerika Serikat, Canada, Australia, Tiongkok, Thailand, Rusia, Turki, Inggris, Jepang, dan sejumlah Negara di Benua Eropa.


Dari penjualan batu akik secara online, Pria asal Sagaranten yang telah menjalani usaha batu akik selama 25 tahun mengaku merasa merugi, di bulan biasanya, Daden bisa meraup keuntungan hingga 60 juta rupiah, namun bulan Ramadhan ini, omzetnya hanya mencapai 36 juta rupiah.



"Sekitar 40 % pendapatan menurun, namun berdasarkan dari pengalaman setiap tahun, hal itu bisa kembali normal setelah melewati hari Raya Idul Fitri," ujar Daden, Kamis (23/5/2019).


BACA JUGA : Doa Dzikir Kerusuhan 22 Mei, Belum Ada Informasi Warga Sukabumi Terlibat Kerusuhan


Lebih jauh Daden membeberkan, saat ini workshop yang dikelolanya menampung 10 orang pegawai yang menjajakan batu akiknya ke seluruh belahan dunia secara online.


"Jenis Akik yang saat ini ramai dipasaran bentuk aksesoris seperti anting, dan liontin, kita biasa menjual di harga 10 US $ setiap piece-nya, dengan minimal order 10 piece sekali pengiriman," jelas Daden.


Jenis batu alam yang saat ini ramai dipasaran dunia adalah jenis Jasper Blue Oval Wood (Batu Garut) sementara batu khas Sukabumi yang masih berani bersaing adalah jenis Kecubung Sindang, Blue Oval, dan Batu Sabun.


BACA JUGA : Bawa Alat Hisap Sabu dan Ketapel, Kapolres Sukabumi : Kita Dalami yang Bersangkutan Apakah Ikut Aksi di Jakarta


Sistem penjualan secara online diakui Daden cukup menguntungkan, awalnya sistem penjualan dengan cara mengundang tamu dari luar Negeri ke Indonesia, namun saat ini dengan sistem online tanpa bertatap muka namun batu akik-nya bisa mendunia.


Unyuk biaya pengiriman produk yang dipasarkannya, Daden menjelaskan jika ongkos kirim tergantung negara tujuan.


"Kalau negara Amerika perkilo ongkos kirim hanya 400 ribu rupiah, namun jika ke Benua Eropa ongkos kirim bisa mencapai 600 ribu perkilonya," jelas Daden.


Disinggung 10 pekerja yang membantunya dalam memasarkan barang, Daden menjelaskan jika pekerjanya hanya berlatar belakang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan SMP.


"Yang penting asal ada kemauan dan ulet, sekarang mereka sudah terbiasa, masalah keterbatasan berbicara bahasa inggris, Kita biasa menggunakan google translate," ungkapnya.(*)


Reporter : Dian Syahputra Pasi