Berita Terkini Sukabumi

Selasa, 24 Oktober 2017

Penjelasan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sukabumi Terkait Jemput Paksa WNA Tiongkok Yang Diduga Pekerja Ilegal

TatarSukabumi.ID - Upaya Jemput paksa sejumlah Warga Negara Asing ( WNA) asal Tiongkok yang diduga sebagai pekerja ilegal dilakukan Senin (23/10).

Sekertaris Disnakertrans Kabupaten Sukabumi yang turun langsung dalam upaya jemput paksa ini kepada awak media menjelaskan, hal ini dilakukan berdasarkan laporan pengaduan Masyarakat atas kehadiran sejumlah WNA yang diduga merupakan pekerja ilegal.

H Ali Iskandar Sekdisnakertrans Kabupaten Sukabumi kepada TatarSukabumi.ID mengungkapkan, upaya ini dilakukan sebagai aksi cepat tanggap atas aduan masyarakat, "Kami dinas tenaga kerja melakukan pengecekan kelapangan, dan berkoordinasi dengan pihak imigrasi, dan Pol PP" ungkapnya.

BACA JUGA : 6 Warga China Diduga Pekerja Tambang Di Sukabumi Digiring Ke Kantor Imigrasi

Lebih lanjut Ali Iskandar menjelaskan, upaya jemput paksa ini merupakan upaya tegas dari Dinas Ketenagakerjaan berdasarkan Undang Undang yang berlaku di Indonesia , "Filosofi Undang Undang ketenagakerjaan Pasal 42 adalah melakukan perlindungan bagi tenaga kerja lokal, TKA harus punya izin hanya untuk pekerjaan tertentu dan dengan waktu tertentu, demikian juga dengan Permenaker Nomor 35 tahun 2015 juga dengan jelas telah menyebut hal itu "

Selain itu, Ali Iskandar membeberkan tentang kewajiban TKA yang harus patuh terhadap Peraturan Daerah (Perda) jika mereka melakukan aktifitas kegiatan usaha di Sukabumi, Ali jelaskan "Dan juga Perda 13 tahun 2014 tentang retribusi semua tenaga asing yang bekerja di Sukabumi, Retribusi perpanjangan IMTA harus berkontribusi ke kas daerah" tegas Ali Iskandar.

BACA JUGA : WNA Tiongkok Dan Bangladesh Yang Diduga Pekerja Ilegal Langsung Di Test Urine BNN Kabupaten Sukabumi

Sementara itu Kepala Kantor Imigrasi yang baru menjabat 2 minggu mengakui jika ini merupakan kasus pertamanya selama menjabat di Sukabumi, Pihaknya akan mendalami kasus ini, sementara untuk tindakan selanjutnya mereka belum dapat menentukan sebelum pendalaman kasus ini.

Sementara itu, terkait tindakan yang akan dilakukan "Lihat nanti, kalo ada dokumenya tidak kita inapkan kalo tidak ada dokumen kita inapkan".

Reporter : Dian Syahputra Pasi